LEMBARAN
PENGESAHAN
Laporan praktikum Kimia Dasar dengan judul “Pengenalan Alat-Alat
Laboratorium” yang disusun oleh :
Nama :Rahmawati
NIM : 60700114018
Kelompok :Satu (I)
telah diperiksa oleh Asisten/Koordinator
Asisten dan dinyatakan diterima.
Samata, November 2014
KoordinatorAsisten Asisten
Fitriana
Yanra Fitriana Yanra
NIM
: 60500111018 NIM
: 60500111018
Mengetahui,
DosenPenanggungJawab
Aisyah, S. Si.M.Si
NIP : 198104202006042020
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Perkembangan teknologi dan informasi membawa dampak
terhadap tatanan kehidupan dunia. Perubahan yang pesat dan mendasar terjadi
dalam kehidupan disegala bidang. Dewasa ini perubahan dunia mengarah ke era
globalisasi dimana kebebasan interaksi antar-kehidupan yang ada didunia tanpa
menengenal batas negara (Baharuddin dan Aziz, 2013: 1).
Pekerjaan yang dilakukan di laboratorium kimia di
seluruh penjuru dunia terus memungkinkan kemajuan penting diseluruh dunia sains
dan teknik. Laboratorium kimia menjadi pusat pemerolehan pengetahuan dan
pengembangan materi baru untuk digunakan di masa depan, serta pusat pemantuan
dan pengendalian bahan kimia yang saai ini digunakan secara rutin dalam ribuan
proses komersiar (Baharaddin dan Aziz, 2013: 1).
Keberhasilan pengelolaan laboratorium sangat
ditentukan oleh sumber daya yang berkaitan dengan yang lainnya (Baharuddin dan
Aziz, 2013:6).
Untuk memperoleh hasil analisa yang benar maka
haruslah diketahui cara-cara pokok dalam perlakuan-perla2kuan umum yang sering
dijumpai dalam laboratorium, antara lain mengenai alat-alat laboratorium dan
cara penggunaannya (Slamet, dkk, 1995: 9).
Selain peralatan yang
biasa ditemukan dalam setiap laboratorium kimia, masih ada barang-barang
tertentu
yang istimewa menarik lagi bagi
kimiawan analisis. Beberapa dari barang yang lebih penting diuraikan dalam
bagian ini, dan diberikan nasehat tentang penguraiannya (Chadijah, 2002: 149).
Secara umum laboratorium diartikan sebagai tempat/ruangan yang dilengkapi
dengan peralatan untuk tujuan mengadakan riset ilmiah, eksperimen, pengukuran,
pengujian ataupun pelatihan ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen ataupun
peneliti (Baharuddin dan Aziz, 2013: 1).
Berdasarkan hal tersebut, laboratorium sangat
dibutuh disuatu Perguruan Tinggi untuk mendukung proses pembelajaran yang
didalamnya terkait dengan pengembangan, pemahaman, keterampil, dan inovasi
dalam segala bidang. Dan alat-alat yang ada di laboratorium juga menjadi
penunjung kesuksesan dalam melakukan percobaan.
B.
RumusanMasalah
Rumusan masalah dari percobaan ini
yaitu :
1.
Apa nama dan bagaimana cara penggunaan
alat-alat gelas dengan benar ?
2.
Apa nama dan bagimana cara penggunaan
alat-alat untuk mereaksikan zat sacara benar ?
3.
Apa nama dan bagaimana cara penggunaan
alat-alat untuk mengukur volume secara benar
4.
Bagaimana teknik dasar dari penyaringan dan
penimbangan yang benar ?
C.
Tujuan
Tujuan percobaan dalam praktikum ini adalah :
1.
Untuk menetahui nama dan penggunaan
alat-alat gelas yang umum digunakan di laboratorium.
2.
Untuk mengetahui nama dan penggunaan
alat-alat untuk mereaksikan zat yang umum digunakan di laboratorium.
3.
Untuk mengetahui nama dan penggunaan
alat-alat pengukuran volume yang umum digunakan di laboratorium.
4.
Untuk mengetahui beberapa teknik dasar
penyaringan dan penimbangan.
TINJAUAN
PUSTAKA
Penimbangan merupakan prosedur rutin dalam analisis
kuantitatif. Pada eksperimen analisis gravimertri, kuantisasinya (respon
analitik) yang harus dicatat dalam massa. Pada anaisis kuantitatif volumetric
prepasi larutan yang dibutuhkan sering harus diawali dengan penimbangan, karena
zat yang akan dilarutkan berada pada keadaan (Kristal). Lepas dari keduanya
pada hamper seluruh analisis yang melibatkan sampel padatan, analit yang
tarkandung juga dilaporkan dalam satuan berbasis berat seperti persen berat,
sehingga sampel harus ditimbang sebelum dianalisis. Penimbangan dapat dilakukan
dengan timbangan neraca analitik atau timbangan biasa tergantung tingkat
ketelitian yang diinginkan dan jumlah zat yang ditimbang (Widodo dan Lusiana,
2010: 40).
Timbangan yang digunakan di laboratoriun terdiri dari bermacam-macam
maupun merek. Yang penting diketahui adalah kapasitas dan ketelitian
timbangan-timbangan yang digunakan yaitu apakah timbangan kasar, sedang dan
halus. Timbangan halus mempunyai ketelitian sampai 0,1 mg bahkan 1
(Slamet, dkk, 1995: 9).
Kuantitas pengukuran
menyangkut masalah kecermatan dan ketelitian. Kecermatan pengukuran berhubungan
dengan seberapa dekat hasil dari dua kali pengukuran atau lebih (Sukri, 1999: 5).
Neraca analitik
merupakan instrument yang memiliki kemampuan mendeteksi perbedaan berat antara
standar dan sampe (pers. 2-3) kurang dari 1 ppm. Sebagai contoh selisih berat
10-4 gram pada penimbangan objek seberat 100 gram dapat dideteksi
dengan seksama. Neraca analitik yang tersedia di laboratorium biasanya memiliki
kapasitas penimbangan tertentu dengan sensitivitas mencapai ± 0,1 mg. Karena
itu suatu objek dengan bobot > 100 mg dapat ditimbang dengan presisi ± 0,1
%. Sampel dengan bobot yang lebih kecil dapat pula ditimbang dengan neraca
dengan kapasitas yang lebih rendah dan sensitivitas ± 0,01 mg atau dengab mikroneraca (10-20 g)
yang memiliki sensitivitas ± 0,001 mg (Widodo dan Lusiana, 2010: 41).
Dalam pengukuran harus
diperhatikan dua hal, yaitu keabsahan dan kuantitas penukuran. Keabsahan
pengukuran berhungan dengan jenis alat ukur, misalnya mengukur berat zat kimia
bisa dipakai timbangan teknis atau timbangan analitis. Timbangan teknis hanya
dapat mengukur massa zat dalam satuan gram, sedangkan timbangan analisis sampai
milligram (Sukri, 1999: 4).
Alat-alat wadah
tersebut harus bersih dan sudah dikeringkan dalam oven 110o C
kemudian didinginkan pada suhu kamar dalam eksikator selama demikian pula
dahulu dengan cara yang sama (Slamet, dkk,
1995: 10).
Penyaringan bertujuan untuk memisahkan suatu cairan dari
bahan padat yang terdapat pada cairan dengan cara melarutkan cairan pada bahan
penyaring, misalnya kertas saring, tiber-glass , krus dari dari
“sintered-glass”, krus porselin yang porous. Bahan-bahan penyaring tersebut
memiliki ukuran porositas yang bermacam-macam (Slamed , dkk, 1995: 11).
Setiap menambah atau mengurangi beban dari pan penimbang, timbangan
harus dalam keadaan tidak bergerak bergerakatau bergoyang. Jangan menimbang
melebihi kapasits timbangan. Bila selesai menimbang, bersihkan alat timbangan
dan kembalikan dalam keadaan terkunci (Slamed , dkk, 1995: 11).
Krus saring digunakan juga sebagai wadah juga sebagai
penyaring. Penyaring dengan alat ini dibantu dengan pompa vakum, dengan
penggunaan adepter karet penghubung antara gelas saring dan krus, sehingga
tidak ada kebocoran tekanan selama penyaringan. Pengumpulan endapan dengan cara
ini biasanya lebih menghemay waktu dibandingkan penyaringan biasa (Widodo dan
Lusiana, 2010: 56).
Kertas saring memiliki sifat menyerap kelembaban udara.
Sehingga setelah pengendapan analit kertas saring perlu didestruksi dengan
pemijaran. Setelah pemijaran, kertas saring menyisakan residu yang kurang
dari 0,1 mg (untuk kertas saring ukuran
lingkar 9 atau 11 cm). Kertas saring tanpa abu tersedia dalam berbagai ukuran
pori (Widodo dan Lusiana, 2010: 58).
Dalam prosedur gravimetrik zat unsur yang diinginkan sering
dipisahkan dalam bentuk endapan. Endapan ini harus dikumpulkan, dicuci bebas
dari zat pengotor yang tidak yang tidak diharapkan dari cairan induk,
dikeringkan dan diimbang, sebagai endapan sendiri atau setelah diubah menjadi
bentuk lain. Penyaring merupakan cara umum yang umum untuk mengumpulkan
endapan, dan pencucian sering dilaksanakan selama pengerjaan yang sama.
Penyaringan dilkukan dengan corong dan kertas saring maupun krus saringan.
Faktor-faktor penting untuk memilih diantara keduanya adalah batas suhu yang
endapan harus dipanaskan untuk mengubahnya menjadi bentuk penimbangan yang
diharapkan dan mudahnya endapan mungkin dapat direduksi (Chadijah, 2002: 100).
Suatu endapn gelatin, seperti besi (III) oksida, dapat
menyumbat pori semua kertas saring. Masalah ini dapat diminimalkan dengan
mencapur despersi kertas saring tanpa abu dengan endapan sebelum disaring. Bila
diperlukan pulp kertas saring juga dapat diperoleh dengan di agen penyedia
bahan-bahan kimia, atau dibuat sendiri dengan memberikan perlakuan asam klorida
pekat pada sepotong kertas saring, kemudian mencucinya hingga bebas asam
(Widodo dan Lusiana, 2010: 58).
Kertas saring biasanya dilipat sedemikian agar menyediakan
ruangan antara kertas dan corong, kecuali pada bagian atas kertas yang harus
cocok dan rapat pada gelas. Lipatan ke dua dibuat sedemikian hingga bagian
akhir tidak saling menyamai sepanjang kira-kira 1/8 inci. Kertas kemudian
dibuka menjadi kerucut. Sudut lipatan sebelah luar pada sisi yang lebih tebal
disobek agar dapat menyesuaikan kertas dengan corong lebih mudah dan
mencerai-beraikan suatu kemungkinana aliran udara bawah lipatan di dekat corong
(Chadijah, 2002: 100).
Corong saring digunakan untuk membantu memindahkan cairan
ke dalam wadah yang bermulut kecil, dan membantu proses pemisahan padatan dari
larutannya dengan bantuan kertas saring. Kertas saring tersedia dalam berbagai
ukuran pori. Pemilihan kertas saring harus mempertingkan ukuran dan bentuk
partikel yang hendak disaring. Partikel gel tidak perlu disaring dengan kertas
saring whatman 42 atau sebaliknya parikel kristal lembut tidak bisa dipisahkan
dari larutannya bila menggunakan kertas saring biasa (Widodo dan Lusiana, 2010:
36).
Peralatan non gelas merupakan peralatan yang biasanya
digunakan dalam percobaan dilaboratorium kimia. Peralatan non gelas ini
bukanlah peralatan utama. Apabila tidak tersedia peralatan ini diusahakan
peralatan yang lain yang dapat menggantikan fungsinya. Namun demikian,
peralatan non gelas harus dapat mungkin diusahakan keberadaannya agar percobaan
dan kegiatan di laboratorium kimia berjalan dengan lancar sebagaimana yang
diinginkan (Baharuddin dan Aziz, 2013: 73).
Pengukur volume dilakukan dengan gelas ukur, pipet, buret,
dan labu takar (labu volumetrik). Biasanya peralatan tersebut ditandai dengan
bagaimana alat tersebut dikalibrasi (TC = to contain, dan TD = to deliver) dan
temperature kalibrasi. Pipet dan buret digunakan untuk mengembil dan
memindahkan volume tertentu (biasanya dalam pembuatan larutan atau pengenceran)
(Widodo dan Lusiana, 2010: 51).
Selama penimbangan gunakan alat yang digunakan
untuk menaruh atau mengambil wadah untuk menimbang bahan anak timbangan dan
lain-lainnya, jangan sekali-kali langsung dipegang dengan tangan. Alat-alat
tersebut dapat berupa penjepit, pinset untuk menaruh atau mengambil wadah,
sedangkan untuk bahan kimia bisa diambil dengan sendok, spatula atau pipet
(untuk bahan cair) (Slamet, dkk, 1995:
9).
Selain peralatan yang
biasa ditemukan dalam setiap laboratorium kimia, masih ada barang-barang
tertentu yang istimewa menarik lagi bagi kimiawan nails. Beberapa dari barang
yang lebih penting diuraikan dalam bagian ini, dan diberikan nasehat tentang
penggunaannya (Chadijah, 2002: 149).
Bermacam-macam jenis kertas saring dapat diperoleh. Untuk
pekerjaan kuantitatif harus digunakan dengan asam-asam klorida dan flurida
selama dibuat. Ini berkadar zat anorganik rendah dan meninggalkan hanya
sejumlah berat abu yang sangat kecil bila dibakar. (Angka khas untuk abu dari
kertas bundar berdiameter 11 cm adalah 0,13 mg). Berat abu biasanya diabaikan;
untuk pekerjaan sangat teliti, suatu koreksi dapat dikenakan, kerena berat abu
cukup tetap bagi kertas dalam suatu batch tertentu (Chadijah, 2002: 101).
BAB III
METODE PENELITIAN
Hari/Tangggal : Selasa, 18 November 2014
Pukul : 13.00-15.30 Wita
Tempat : Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar
B.
Alat dan Bahan
1. Alat
Alat yang digunakan
adalah Gelas kimia, labu erlenmeyer, gelas ukur, pipet
volume, pipet skala, bulp, corong, labu takar, batang pengaduk, botol semprot,
penjepit tabung reaksi, gunting, korek, lap halus, kasa asbes, kaki tiga,
bunsen, kaca arloji, spatula, dan neraca analitik.
2. Bahan
Bahan yang digunakan
adalah aquades, kertas saring dan korek kayu.
C.
Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam
praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.
Teknik Penyaringan dengan cara
memasukkan aquades 150 ml dalam labu
erlenmeyer, lalu memasukkan aquades 150 ml kedalam gelas kimia, memipet 5 ml
aquades kedalam pipet skala 10 ml, memipet 10 ml aquades kedalam pipet volume
10 ml, dan lihat hasilnya.
2.
Teknik penyaringan dengan cara melipat
kertas dengan menyesuaikan lipatan kertas denag
corong, lalu merobek/menggunting sudut kertas yang terlipat kemudian
menghimpitkan kertas pada sisi corong, memastikan tidak ada gelembung udara,
selanjutnya menuangkan aquades kedalam corong dengan menghimpitkan dengan
batang pengaduk, membersihkan gelas kimia dan lihat hasilnya.
3.
Teknik Pemipetan dengan cara memipet
aquades lalu memasukkan kedalam gelas kimia, memencet bagian A pada bulp,
memencet bagian S pada bulp, memipet aqudes, membersihkan pipet baik pipet
volume maupun pipet skala denag memiringkan sedikit lalu memutar pipet,
mengeluarkan aquades dalam pipet dan lihat hasilnya.
4.
Teknik pemanasan dan penimbangan dengan
cara pemanasan secara langsung mengisi tabung reaksi dengan aquades, menyalakan
bunsen, menjepit tabung reaksi, lalu memanaskan aquades didalam tabung reaksi
sampai mendidih. Pemanasan secara tidak langsung mengambil kaki tiga,
memasukkan bunsen dibawah kaki tiga, menaikkan gelas kimia diatas kaki tiga
yang dilapisi kasa asbes, masukkan tabung reaksi kedalam gelas kimia, dan
dipanaskan. Penimbangan, menyambungkan kabel kesumber listrik, tekan tombol
on/off untuk menyalakan, memasukkan kaca arloji lalu tutup rapat kemudian
ditimbang, lihat beratnya, mengeluarakan arloji lalu tutup kembali, kembalikan
kenol, dan mematikan dengan memekan tombol on/off lalu putuskan arus
listriknyaa.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Pengamatan
1.
Teknik
Pengukuran
|
Nama alat
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
Gelas kimia
|
|
Untuk mencampur cairan dan
memanaskan larutan
|
|
Gelas ukur
|
|
Untuk mengukur volume larutan
yang tidak memiliki tingkat ketelitan tinggi dalam jumlah tertentu
|
|
Erlenmeyer
|
|
Untuk mengukur volume suatu zat
|
|
Pipet skala
|
|
Untuk mengukur volume
|
|
Pipet gondok
|
|
Untuk mengambil larutan dengan
volume tertentu sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang
menggelembung
|
|
Bulb
|
|
Untuk menghisap larutan
|
2.
Teknik
Penyaringan
|
Nama alat
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
Gelas kimia
|
|
Untuk mereaksikan cairan
|
|
Corong
|
|
Untuk membantu memasukkan cairan
kedalam botol atau untuk menyaring endapan dengan kertas
|
|
Kertas saring
|
|
Untuk menyaring larutan
|
|
Pengaduk
|
|
Untuk mengaduk dan membersihkan
endapan
|
|
Lap halus
|
|
Untuk menahan zat-zat reaksi agar
tidak terkontaminasi dengan alat-alat yang lain
|
|
Gunting
|
|
Untuk memotong kertas saring
|
|
Labu takar
|
|
Membuat keperluan pengenceran
sampai volume tertentu.
|
3.
Teknik
Pemipetan
|
Nama alat
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
Gelas kimia
|
|
Untuk mereaksikan
cairan
|
|
Pipet skala
|
|
Untuk mengukur volume
larutan
|
|
Pipet gondok (pipet volume)
|
|
Mengambil larutan
dengan volume tertentu sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang
menggelembung
|
|
Bulb
|
|
Untuk menghisap larutan
|
|
Botol semprot
|
|
Unutk
membersihkan dinding bejana dari sisa endapan, untuk mengeluarkan air tau
cairan dalam jumlah terbatas, dan tempat penimpanan air
|
4.
Penimbangan dan pemanasan
a. Penimbangan
|
Nama alat
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
Neraca analisis
|
|
Untuk menimbang sampel
yang ingin diketahui beratnya
|
|
Kaca arloji
|
|
Untuk menyaring cairan
kimia dan ampas suatu sampel
|
|
Spatula
|
|
Untuk mengambil
bahan-bahan kimia yang akan ditimbang
|
b. Pemanasan
|
Nama alat
|
Gambar
|
Fungsi
|
|
Tabung reaksi
|
|
Untuk mereaksikan dua
zat atau lebih
|
|
Penjepit tabung
|
|
Untuk mennjepit tabung
reaksi dan untuk memindahkan tabung reaksi
|
|
Gelas kimia
|
|
Untuk mereaksikan
cairan
|
|
Pipet tetes
|
|
Untuk meneteskan atau
mengambil larutan dalam jumlah kecil
|
|
Bunsen
|
|
Untuk membakar zat dan
memanaskan larutan
|
|
Kaca asbes
|
|
Untuk menahan labu pada
saat pemanasan
|
|
Kaki tiga
|
|
Untuk penyangga dalam
proses pemanasan dengan menggunakan bunsen
|
B.
Pembahasan
Penjelasan menurut penuntun praktikum kimia tentang pengenalan alat-alat laboratorium.
1. Gelas
kimia (gelas piala) untuk mereaksikan cairan, memanaskan atau memasak cairan dan
membuat endapan dalam jumlah besar. Jika memasak cairan, gelas piala ditutup
dengan gelas arloji.
2. Labu
Erlenmeyer kegunaannya seperti gelas kimia, tetapi tidak digunakan untuk
membuat endapan yang perlu disaring.
3. Tabung
reaksi untuk mereaksikan cairan dalam jumlah sedikit, jika dilakukan pengocokan
kesamping, tabung di isi tidak lebih dari setengahnya. Jika perlu pemanasan,
harus dilakukan hati-hati, tabung dipegang miring.
4. Gelas
ukur untuk mengukur cairan yang tidak terlalu tepat. Cara memakinya:dipegang
dengantangan dan ibujari menunjuk batas volume yang dikehendaki.
5. Pipet
ada 2 (dua) macam yaitu pipert volume dan pipet gondok, untuk mengambil
sejumlah volume tertentu dan pipet skala (mohr) untuk mengambil bermacam-macam
volume.
6. Buret
digunakan untuk mengeluakan cairan dengan volume sembarang, tetapi tepat.
7. Labu
takar digunakan untuk membuat larutan dari sejumlah zat padat menjadi
konsentrasi tertentu atau mengencerkan suatu larutan sehinggamempunyai
konsentrasi tertentu.
8. Pengaduk
digunakan untuk mengaduk, sebagai perantaradan membersihkan endapan pada
dinding bejana.
9. Gelas
arloji digunakan untuk menutup bejana lain pada waktu pemanasandan sebagainya
dan untuk menguapkan suatu cairan.
10. Coronng
dipakai untuk membantu memasukkan kedalam botol yang tertutup kecil, atau untuk
menyaring endapan dengan kertas saring.
11. Botol
semprot untuk membersihkan bejana dari sisa-sisa endapan.
12. Bulp
digunakan untuk membantu mengambil cairan menggunakan pipet ukur atau pipet
volume dalam bentuk silinder plastic dan bola karet.
13. Neraca
analitik merupakan alat penimbang konvensional sampai pada tingkat mg. fungsi
mekanis neraca ini digantikan dengan fungsi elektrik pada neraca listrik. Denganneraca listrik pekerjaan
penimbangan menjadi jauh lebih cepat disbanding neraca analitik.
14. Kaki
tiga : digunakan untuk dalam proses pemanasan. Diatas kaki tiga diletakkan
kawat kasa.
Pengenalan alat-alat laboratorium penting
dilakukan sebelum melakukan praktikum-praktikum selanjutnya yang tentu saja
akan selalu menggunakan alat tersebut. Seperti tabung reaksi yang merupakan
alat gelas yang digunakan pada saat pereaksian zatkimia. Alat-alat gelas lain
yang ada di laboratorium adalah gelas
ukur digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Gelas ini
berskala dan bermacam ukuran. sebelum digunakan alat harus dalam keadaan steril
dan setelah digunakan alat harus dicuci dan dikeringkan.
Pada
saat penyaringan digunakan gelas kimia, gelas ukur, Erlenmeyer, piet skla, pipet
gondok, dan bulb, penggunaan ini dimaksudkan untuk tujuan membandingkan
keteltian masing-masing alat.
Pada
saat penyaringan kita memerlukan beberapa alat seperti corong dan pengaduk untuk memudahkan cairan masuk kedalam gelas
kimia, kertas saring untuk menyaring cairan sebelim masuk kedalam gelas kimia
dan lain sebagainya.
Pada
saat pemipetan kita harus memperhatikan skala cairan yang akan diambil, harus
sesuai dengan berapa ukuran yang dibutuhkan dan cara membaca pengukuran harus
tepat.
Pada
saat proses pemanasan ada dua macam cara yang dapat dilakukan yaitu secara
langsung dan tidak langsung. Proses secara langsung tabung reaksi akan
bersentuhan langsung dengan api dan api yang digunakan yaitu api yang bagian
dalam agar hasil baik serta goyang-goyangkan tabung reaksi sampai mencapai suhu
mencapai suhu yang diinginkan. Sedangkan pemanasan tidak langsung menggunakan
hotplate atau wadah.
Bahan
kimia yang ditimbang tidak boleh langsung ditaruh pada piring neraca, tetapi
harus ditimbang dalam botol timbang, gelas piala atau gelas arloji dan
sebagainya. Dalam menimbang kita harus memperhatikan beberapa hal, seperti
penimbangan itu harus dilakukan dalam ruang tertutup, meletakkan dan dilarang
menimbang barang panas sebelum didinginkan, dan jaga selalu kebersihan
timbangan.
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan
dari percobaan ini adalah :
1.
Pada teknik
pengukuran alat yang digunakan adalah gelas kimia, gelas ukur, erlenmeyer,
pipet skala, pipet volume dan bulb. Sedangkan bahan yang digunakan adalah
aquades.
2.
Pada teknik penyaringan
alat yang digunakan yaitu gelas kimia, corong, pengaduk, lap halus, gunting dan
labu takar. Sedangkan bahan yang digunakan adalah aquades dnan kertas saring.
3.
Pada teknik
pemipetan alat yang digunakan adalah gelas kimia, pipet skala, pipet volume
bulb dan botol semprot. Sedangkan alat yang digunakan adalah aquades.
4.
Pada teknik
penimbangan alat yang digunakan adalah neraca analisis, kaca arloji, spatula
dan pada teknik pemanasan alat yang dipakai adalah tabung reaksi, penjepit
tabung, gelas kimia, pipet tetes, Bunsen kaca asbes dan kaki tiga. Sedangkan
bahan yang digunakan adalah aquades, dan korek kayu.
B.
Saran
Alat-alat
yang digunakan seharusnya lebih banyak lagi dan apabila dalam praktikum selalu
berhati-hati dalam menggunakan alat-alat yang telah tersedia.
DAFTAR PUSTAKA
Baharuddin
Maswati dan Aziz Fitria. Modul Manajemen Laboratorium.
Makassar : Jurusan Kimia UIN Alauddin Makassar, 2013.
Khadinimal.
Teknik Laboratorium Kimia,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Sudarmaji
Slamet, dkk. Prosedur Analisis untuk
Bahan Makanan dan Pertanian, Bandung. 1995.
S.
Syukri, Kimia Dasar. Bandung: ITB,
1999.
Widodo
Setiyo Didik dan Lusiana Ariadi Retno. Kimia
Analisis Kuantitatif.. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar