Rabu, 11 Februari 2015

BAB I
LEMBARAN PENGESAHAN

Laporan praktikum Kimia Dasar  dengan judul “Pengenalan Alat-Alat Laboratorium” yang disusun oleh :
            Nama               :Rahmawati
            NIM                : 60700114018
            Kelompok       :Satu (I)
telah diperiksa oleh Asisten/Koordinator Asisten dan dinyatakan diterima.
Samata,  November 2014


KoordinatorAsisten                                                               Asisten


Fitriana Yanra                                                                                                                         Fitriana Yanra
NIM : 60500111018                                                              NIM : 60500111018

Mengetahui,
DosenPenanggungJawab



Aisyah, S. Si.M.Si
NIP : 198104202006042020



PENDAHULUAN

A.       Latar Belakang
Perkembangan teknologi dan informasi membawa dampak terhadap tatanan kehidupan dunia. Perubahan yang pesat dan mendasar terjadi dalam kehidupan disegala bidang. Dewasa ini perubahan dunia mengarah ke era globalisasi dimana kebebasan interaksi antar-kehidupan yang ada didunia tanpa menengenal batas negara (Baharuddin dan Aziz, 2013: 1).
Pekerjaan yang dilakukan di laboratorium kimia di seluruh penjuru dunia terus memungkinkan kemajuan penting diseluruh dunia sains dan teknik. Laboratorium kimia menjadi pusat pemerolehan pengetahuan dan pengembangan materi baru untuk digunakan di masa depan, serta pusat pemantuan dan pengendalian bahan kimia yang saai ini digunakan secara rutin dalam ribuan proses komersiar (Baharaddin dan Aziz, 2013: 1).
Keberhasilan pengelolaan laboratorium sangat ditentukan oleh sumber daya yang berkaitan dengan yang lainnya (Baharuddin dan Aziz, 2013:6).
Untuk memperoleh hasil analisa yang benar maka haruslah diketahui cara-cara pokok dalam perlakuan-perla2kuan umum yang sering dijumpai dalam laboratorium, antara lain mengenai alat-alat laboratorium dan cara penggunaannya (Slamet, dkk, 1995: 9).


Selain peralatan yang biasa ditemukan dalam setiap laboratorium kimia, masih ada barang-barang tertentu yang istimewa menarik lagi bagi kimiawan analisis. Beberapa dari barang yang lebih penting diuraikan dalam bagian ini, dan diberikan nasehat tentang penguraiannya (Chadijah, 2002: 149).
Secara umum laboratorium diartikan sebagai tempat/ruangan yang dilengkapi dengan peralatan untuk tujuan mengadakan riset ilmiah, eksperimen, pengukuran, pengujian ataupun pelatihan ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa, dosen ataupun peneliti (Baharuddin dan Aziz, 2013: 1).
Berdasarkan hal tersebut, laboratorium sangat dibutuh disuatu Perguruan Tinggi untuk mendukung proses pembelajaran yang didalamnya terkait dengan pengembangan, pemahaman, keterampil, dan inovasi dalam segala bidang. Dan alat-alat yang ada di laboratorium juga menjadi penunjung kesuksesan dalam melakukan percobaan.
B.       RumusanMasalah
            Rumusan masalah dari percobaan ini yaitu :
1.        Apa nama dan bagaimana cara penggunaan alat-alat gelas dengan benar ?
2.        Apa nama dan bagimana cara penggunaan alat-alat untuk mereaksikan zat sacara benar ?
3.        Apa nama dan bagaimana cara penggunaan alat-alat untuk mengukur volume secara benar
4.        Bagaimana teknik dasar dari penyaringan dan penimbangan yang benar ?



C.           Tujuan
            Tujuan percobaan dalam praktikum ini adalah :
1.        Untuk menetahui nama dan penggunaan alat-alat gelas yang umum digunakan di laboratorium.
2.        Untuk mengetahui nama dan penggunaan alat-alat untuk mereaksikan zat yang umum digunakan di laboratorium.
3.        Untuk mengetahui nama dan penggunaan alat-alat pengukuran volume yang umum digunakan di laboratorium.
4.        Untuk mengetahui beberapa teknik dasar penyaringan dan penimbangan.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Penimbangan merupakan prosedur rutin dalam analisis kuantitatif. Pada eksperimen analisis gravimertri, kuantisasinya (respon analitik) yang harus dicatat dalam massa. Pada anaisis kuantitatif volumetric prepasi larutan yang dibutuhkan sering harus diawali dengan penimbangan, karena zat yang akan dilarutkan berada pada keadaan (Kristal). Lepas dari keduanya pada hamper seluruh analisis yang melibatkan sampel padatan, analit yang tarkandung juga dilaporkan dalam satuan berbasis berat seperti persen berat, sehingga sampel harus ditimbang sebelum dianalisis. Penimbangan dapat dilakukan dengan timbangan neraca analitik atau timbangan biasa tergantung tingkat ketelitian yang diinginkan dan jumlah zat yang ditimbang (Widodo dan Lusiana, 2010: 40).
Timbangan yang digunakan di laboratoriun terdiri dari bermacam-macam maupun merek. Yang penting diketahui adalah kapasitas dan ketelitian timbangan-timbangan yang digunakan yaitu apakah timbangan kasar, sedang dan halus. Timbangan halus mempunyai ketelitian sampai 0,1 mg bahkan 1  (Slamet, dkk, 1995: 9).
Kuantitas pengukuran menyangkut masalah kecermatan dan ketelitian. Kecermatan pengukuran berhubungan dengan seberapa dekat hasil dari dua kali pengukuran atau lebih (Sukri, 1999: 5).
Neraca analitik merupakan instrument yang memiliki kemampuan mendeteksi perbedaan berat antara standar dan sampe (pers. 2-3) kurang dari 1 ppm. Sebagai contoh selisih berat 10-4 gram pada penimbangan objek seberat 100 gram dapat dideteksi dengan seksama. Neraca analitik yang tersedia di laboratorium biasanya memiliki kapasitas penimbangan tertentu dengan sensitivitas mencapai ± 0,1 mg. Karena itu suatu objek dengan bobot > 100 mg dapat ditimbang dengan presisi ± 0,1 %. Sampel dengan bobot yang lebih kecil dapat pula ditimbang dengan neraca dengan kapasitas yang lebih rendah dan sensitivitas ±  0,01 mg atau dengab mikroneraca (10-20 g) yang memiliki sensitivitas ± 0,001 mg (Widodo dan Lusiana, 2010: 41).
Dalam pengukuran harus diperhatikan dua hal, yaitu keabsahan dan kuantitas penukuran. Keabsahan pengukuran berhungan dengan jenis alat ukur, misalnya mengukur berat zat kimia bisa dipakai timbangan teknis atau timbangan analitis. Timbangan teknis hanya dapat mengukur massa zat dalam satuan gram, sedangkan timbangan analisis sampai milligram (Sukri, 1999: 4).
Alat-alat wadah tersebut harus bersih dan sudah dikeringkan dalam oven 110o C kemudian didinginkan pada suhu kamar dalam eksikator selama demikian pula dahulu dengan cara yang sama (Slamet, dkk,  1995: 10).
          Penyaringan bertujuan untuk memisahkan suatu cairan dari bahan padat yang terdapat pada cairan dengan cara melarutkan cairan pada bahan penyaring, misalnya kertas saring, tiber-glass , krus dari dari “sintered-glass”, krus porselin yang porous. Bahan-bahan penyaring tersebut memiliki ukuran porositas yang bermacam-macam (Slamed , dkk, 1995: 11).
          Setiap menambah atau mengurangi beban dari pan penimbang, timbangan harus dalam keadaan tidak bergerak bergerakatau bergoyang. Jangan menimbang melebihi kapasits timbangan. Bila selesai menimbang, bersihkan alat timbangan dan kembalikan dalam keadaan terkunci (Slamed , dkk, 1995: 11).
          Krus saring digunakan juga sebagai wadah juga sebagai penyaring. Penyaring dengan alat ini dibantu dengan pompa vakum, dengan penggunaan adepter karet penghubung antara gelas saring dan krus, sehingga tidak ada kebocoran tekanan selama penyaringan. Pengumpulan endapan dengan cara ini biasanya lebih menghemay waktu dibandingkan penyaringan biasa (Widodo dan Lusiana, 2010: 56).
          Kertas saring memiliki sifat menyerap kelembaban udara. Sehingga setelah pengendapan analit kertas saring perlu didestruksi dengan pemijaran. Setelah pemijaran, kertas saring menyisakan residu yang kurang dari  0,1 mg (untuk kertas saring ukuran lingkar 9 atau 11 cm). Kertas saring tanpa abu tersedia dalam berbagai ukuran pori (Widodo dan Lusiana, 2010: 58).
          Dalam prosedur gravimetrik zat unsur yang diinginkan sering dipisahkan dalam bentuk endapan. Endapan ini harus dikumpulkan, dicuci bebas dari zat pengotor yang tidak yang tidak diharapkan dari cairan induk, dikeringkan dan diimbang, sebagai endapan sendiri atau setelah diubah menjadi bentuk lain. Penyaring merupakan cara umum yang umum untuk mengumpulkan endapan, dan pencucian sering dilaksanakan selama pengerjaan yang sama. Penyaringan dilkukan dengan corong dan kertas saring maupun krus saringan. Faktor-faktor penting untuk memilih diantara keduanya adalah batas suhu yang endapan harus dipanaskan untuk mengubahnya menjadi bentuk penimbangan yang diharapkan dan mudahnya endapan mungkin dapat direduksi (Chadijah, 2002: 100).
          Suatu endapn gelatin, seperti besi (III) oksida, dapat menyumbat pori semua kertas saring. Masalah ini dapat diminimalkan dengan mencapur despersi kertas saring tanpa abu dengan endapan sebelum disaring. Bila diperlukan pulp kertas saring juga dapat diperoleh dengan di agen penyedia bahan-bahan kimia, atau dibuat sendiri dengan memberikan perlakuan asam klorida pekat pada sepotong kertas saring, kemudian mencucinya hingga bebas asam (Widodo dan Lusiana, 2010: 58).
          Kertas saring biasanya dilipat sedemikian agar menyediakan ruangan antara kertas dan corong, kecuali pada bagian atas kertas yang harus cocok dan rapat pada gelas. Lipatan ke dua dibuat sedemikian hingga bagian akhir tidak saling menyamai sepanjang kira-kira 1/8 inci. Kertas kemudian dibuka menjadi kerucut. Sudut lipatan sebelah luar pada sisi yang lebih tebal disobek agar dapat menyesuaikan kertas dengan corong lebih mudah dan mencerai-beraikan suatu kemungkinana aliran udara bawah lipatan di dekat corong (Chadijah, 2002: 100).
          Corong saring digunakan untuk membantu memindahkan cairan ke dalam wadah yang bermulut kecil, dan membantu proses pemisahan padatan dari larutannya dengan bantuan kertas saring. Kertas saring tersedia dalam berbagai ukuran pori. Pemilihan kertas saring harus mempertingkan ukuran dan bentuk partikel yang hendak disaring. Partikel gel tidak perlu disaring dengan kertas saring whatman 42 atau sebaliknya parikel kristal lembut tidak bisa dipisahkan dari larutannya bila menggunakan kertas saring biasa (Widodo dan Lusiana, 2010: 36).
          Peralatan non gelas merupakan peralatan yang biasanya digunakan dalam percobaan dilaboratorium kimia. Peralatan non gelas ini bukanlah peralatan utama. Apabila tidak tersedia peralatan ini diusahakan peralatan yang lain yang dapat menggantikan fungsinya. Namun demikian, peralatan non gelas harus dapat mungkin diusahakan keberadaannya agar percobaan dan kegiatan di laboratorium kimia berjalan dengan lancar sebagaimana yang diinginkan (Baharuddin dan Aziz, 2013: 73).
          Pengukur volume dilakukan dengan gelas ukur, pipet, buret, dan labu takar (labu volumetrik). Biasanya peralatan tersebut ditandai dengan bagaimana alat tersebut dikalibrasi (TC = to contain, dan TD = to deliver) dan temperature kalibrasi. Pipet dan buret digunakan untuk mengembil dan memindahkan volume tertentu (biasanya dalam pembuatan larutan atau pengenceran) (Widodo dan Lusiana, 2010: 51).
           Selama penimbangan gunakan alat yang digunakan untuk menaruh atau mengambil wadah untuk menimbang bahan anak timbangan dan lain-lainnya, jangan sekali-kali langsung dipegang dengan tangan. Alat-alat tersebut dapat berupa penjepit, pinset untuk menaruh atau mengambil wadah, sedangkan untuk bahan kimia bisa diambil dengan sendok, spatula atau pipet (untuk bahan cair) (Slamet, dkk, 1995: 9).
          Selain peralatan yang biasa ditemukan dalam setiap laboratorium kimia, masih ada barang-barang tertentu yang istimewa menarik lagi bagi kimiawan nails. Beberapa dari barang yang lebih penting diuraikan dalam bagian ini, dan diberikan nasehat tentang penggunaannya (Chadijah, 2002: 149).
          Bermacam-macam jenis kertas saring dapat diperoleh. Untuk pekerjaan kuantitatif harus digunakan dengan asam-asam klorida dan flurida selama dibuat. Ini berkadar zat anorganik rendah dan meninggalkan hanya sejumlah berat abu yang sangat kecil bila dibakar. (Angka khas untuk abu dari kertas bundar berdiameter 11 cm adalah 0,13 mg). Berat abu biasanya diabaikan; untuk pekerjaan sangat teliti, suatu koreksi dapat dikenakan, kerena berat abu cukup tetap bagi kertas dalam suatu batch tertentu (Chadijah, 2002: 101).

BAB III
METODE PENELITIAN
A.      Waktu dan Tempat

Hari/Tangggal : Selasa, 18 November 2014
Pukul             : 13.00-15.30 Wita
Tempat          : Laboratorium Kimia Analitik Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makassar
B.       Alat dan Bahan
1.      Alat
Alat yang digunakan adalah Gelas kimia, labu erlenmeyer, gelas ukur, pipet volume, pipet skala, bulp, corong, labu takar, batang pengaduk, botol semprot, penjepit tabung reaksi, gunting, korek, lap halus, kasa asbes, kaki tiga, bunsen, kaca arloji, spatula, dan neraca analitik.
2.      Bahan
Bahan yang digunakan adalah aquades, kertas saring dan korek kayu.

C.      Prosedur Kerja
Prosedur kerja dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.    Teknik Penyaringan dengan cara memasukkan aquades 150 ml dalam labu erlenmeyer, lalu memasukkan aquades 150 ml kedalam gelas kimia, memipet 5 ml aquades kedalam pipet skala 10 ml, memipet 10 ml aquades kedalam pipet volume 10 ml, dan lihat hasilnya.
2.    Teknik penyaringan dengan cara melipat kertas dengan menyesuaikan lipatan kertas denag  corong, lalu merobek/menggunting sudut kertas yang terlipat kemudian menghimpitkan kertas pada sisi corong, memastikan tidak ada gelembung udara, selanjutnya menuangkan aquades kedalam corong dengan menghimpitkan dengan batang pengaduk, membersihkan gelas kimia dan lihat hasilnya.
3.    Teknik Pemipetan dengan cara memipet aquades lalu memasukkan kedalam gelas kimia, memencet bagian A pada bulp, memencet bagian S pada bulp, memipet aqudes, membersihkan pipet baik pipet volume maupun pipet skala denag memiringkan sedikit lalu memutar pipet, mengeluarkan aquades dalam pipet dan lihat hasilnya.
4.    Teknik pemanasan dan penimbangan dengan cara pemanasan secara langsung mengisi tabung reaksi dengan aquades, menyalakan bunsen, menjepit tabung reaksi, lalu memanaskan aquades didalam tabung reaksi sampai mendidih. Pemanasan secara tidak langsung mengambil kaki tiga, memasukkan bunsen dibawah kaki tiga, menaikkan gelas kimia diatas kaki tiga yang dilapisi kasa asbes, masukkan tabung reaksi kedalam gelas kimia, dan dipanaskan. Penimbangan, menyambungkan kabel kesumber listrik, tekan tombol on/off untuk menyalakan, memasukkan kaca arloji lalu tutup rapat kemudian ditimbang, lihat beratnya, mengeluarakan arloji lalu tutup kembali, kembalikan kenol, dan mematikan dengan memekan tombol on/off lalu putuskan arus listriknyaa.




BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.           Hasil Pengamatan
1.        Teknik Pengukuran
Nama alat
Gambar
Fungsi
Gelas kimia

Untuk mencampur cairan dan memanaskan larutan
Gelas ukur

Untuk mengukur volume larutan yang tidak memiliki tingkat ketelitan tinggi dalam jumlah tertentu
Erlenmeyer

Untuk mengukur volume suatu zat
Pipet skala

Untuk mengukur volume
Pipet gondok


Untuk mengambil larutan dengan volume tertentu sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung
Bulb

Untuk menghisap larutan

2.        Teknik Penyaringan
Nama alat
Gambar
Fungsi
Gelas kimia

Untuk mereaksikan cairan
Corong

Untuk membantu memasukkan cairan kedalam botol atau untuk menyaring endapan dengan kertas
Kertas saring

Untuk menyaring larutan
Pengaduk

Untuk mengaduk dan membersihkan endapan
Lap halus

Untuk menahan zat-zat reaksi agar tidak terkontaminasi dengan alat-alat yang lain
Gunting

Untuk memotong kertas saring
Labu takar

Membuat keperluan pengenceran sampai volume tertentu.

3.             Teknik Pemipetan
Nama alat
Gambar
Fungsi
Gelas kimia

Untuk mereaksikan cairan
Pipet skala

Untuk mengukur volume larutan
Pipet gondok (pipet volume)

Mengambil larutan dengan volume tertentu sesuai dengan label yang tertera pada bagian yang menggelembung
Bulb

Untuk menghisap larutan
Botol semprot

Unutk membersihkan dinding bejana dari sisa endapan, untuk mengeluarkan air tau cairan dalam jumlah terbatas, dan tempat penimpanan air







4.        Penimbangan dan pemanasan
a.      Penimbangan
Nama alat
Gambar
Fungsi
Neraca analisis

Untuk menimbang sampel yang ingin diketahui beratnya
Kaca arloji

Untuk menyaring cairan kimia dan ampas suatu sampel
Spatula

Untuk mengambil bahan-bahan kimia yang akan ditimbang

b.      Pemanasan
Nama alat
Gambar
Fungsi
Tabung reaksi

Untuk mereaksikan dua zat atau lebih
Penjepit tabung

Untuk mennjepit tabung reaksi dan untuk memindahkan tabung reaksi
Gelas kimia

Untuk mereaksikan cairan
Pipet tetes

Untuk meneteskan atau mengambil larutan dalam jumlah kecil
Bunsen

Untuk membakar zat dan memanaskan larutan
Kaca asbes

Untuk menahan labu pada saat pemanasan
Kaki tiga

Untuk penyangga dalam proses pemanasan dengan menggunakan bunsen

B.            Pembahasan
Penjelasan menurut penuntun praktikum kimia tentang pengenalan alat-alat laboratorium.
1.    Gelas kimia (gelas piala) untuk mereaksikan cairan, memanaskan atau memasak cairan dan membuat endapan dalam jumlah besar. Jika memasak cairan, gelas piala ditutup dengan gelas arloji.
2.    Labu Erlenmeyer kegunaannya seperti gelas kimia, tetapi tidak digunakan untuk membuat endapan yang perlu disaring.
3.    Tabung reaksi untuk mereaksikan cairan dalam jumlah sedikit, jika dilakukan pengocokan kesamping, tabung di isi tidak lebih dari setengahnya. Jika perlu pemanasan, harus dilakukan hati-hati, tabung dipegang miring.
4.    Gelas ukur untuk mengukur cairan yang tidak terlalu tepat. Cara memakinya:dipegang dengantangan dan ibujari menunjuk batas volume yang dikehendaki.
5.    Pipet ada 2 (dua) macam yaitu pipert volume dan pipet gondok, untuk mengambil sejumlah volume tertentu dan pipet skala (mohr) untuk mengambil bermacam-macam volume.
6.    Buret digunakan untuk mengeluakan cairan dengan volume sembarang, tetapi tepat.
7.      Labu takar digunakan untuk membuat larutan dari sejumlah zat padat menjadi konsentrasi tertentu atau mengencerkan suatu larutan sehinggamempunyai konsentrasi tertentu.
8.    Pengaduk digunakan untuk mengaduk, sebagai perantaradan membersihkan endapan pada dinding bejana.
9.      Gelas arloji digunakan untuk menutup bejana lain pada waktu pemanasandan sebagainya dan untuk menguapkan suatu cairan.
10.  Coronng dipakai untuk membantu memasukkan kedalam botol yang tertutup kecil, atau untuk menyaring endapan dengan kertas saring.
11.  Botol semprot untuk membersihkan bejana dari sisa-sisa endapan.
12.  Bulp digunakan untuk membantu mengambil cairan menggunakan pipet ukur atau pipet volume dalam bentuk silinder plastic dan bola karet.
13.  Neraca analitik merupakan alat penimbang konvensional sampai pada tingkat mg. fungsi mekanis neraca ini digantikan dengan fungsi elektrik pada  neraca listrik. Denganneraca listrik pekerjaan penimbangan menjadi jauh lebih cepat disbanding neraca analitik.
14.  Kaki tiga : digunakan untuk dalam proses pemanasan. Diatas kaki tiga diletakkan kawat kasa.
Pengenalan alat-alat laboratorium penting dilakukan sebelum melakukan praktikum-praktikum selanjutnya yang tentu saja akan selalu menggunakan alat tersebut. Seperti tabung reaksi yang merupakan alat gelas yang digunakan pada saat pereaksian zatkimia. Alat-alat gelas lain yang ada di laboratorium  adalah gelas ukur digunakan untuk mengukur volume zat kimia dalam bentuk cair. Gelas ini berskala dan bermacam ukuran. sebelum digunakan alat harus dalam keadaan steril dan setelah digunakan alat harus dicuci dan dikeringkan.
Pada saat penyaringan digunakan gelas kimia, gelas ukur, Erlenmeyer, piet skla, pipet gondok, dan bulb, penggunaan ini dimaksudkan untuk tujuan membandingkan keteltian masing-masing alat.
Pada saat penyaringan kita memerlukan beberapa alat seperti corong dan pengaduk  untuk memudahkan cairan masuk kedalam gelas kimia, kertas saring untuk menyaring cairan sebelim masuk kedalam gelas kimia dan lain sebagainya.
Pada saat pemipetan kita harus memperhatikan skala cairan yang akan diambil, harus sesuai dengan berapa ukuran yang dibutuhkan dan cara membaca pengukuran harus tepat.
Pada saat proses pemanasan ada dua macam cara yang dapat dilakukan yaitu secara langsung dan tidak langsung. Proses secara langsung tabung reaksi akan bersentuhan langsung dengan api dan api yang digunakan yaitu api yang bagian dalam agar hasil baik serta goyang-goyangkan tabung reaksi sampai mencapai suhu mencapai suhu yang diinginkan. Sedangkan pemanasan tidak langsung menggunakan hotplate atau wadah.
Bahan kimia yang ditimbang tidak boleh langsung ditaruh pada piring neraca, tetapi harus ditimbang dalam botol timbang, gelas piala atau gelas arloji dan sebagainya. Dalam menimbang kita harus memperhatikan beberapa hal, seperti penimbangan itu harus dilakukan dalam ruang tertutup, meletakkan dan dilarang menimbang barang panas sebelum didinginkan, dan jaga selalu kebersihan timbangan.

BAB V
PENUTUP

A.      Kesimpulan
          Kesimpulan dari percobaan ini adalah :
1.        Pada teknik pengukuran alat yang digunakan adalah gelas kimia, gelas ukur, erlenmeyer, pipet skala, pipet volume dan bulb. Sedangkan bahan yang digunakan adalah aquades.
2.        Pada teknik penyaringan alat yang digunakan yaitu gelas kimia, corong, pengaduk, lap halus, gunting dan labu takar. Sedangkan bahan yang digunakan adalah aquades dnan kertas saring.
3.        Pada teknik pemipetan alat yang digunakan adalah gelas kimia, pipet skala, pipet volume bulb dan botol semprot. Sedangkan alat yang digunakan adalah aquades.
4.        Pada teknik penimbangan alat yang digunakan adalah neraca analisis, kaca arloji, spatula dan pada teknik pemanasan alat yang dipakai adalah tabung reaksi, penjepit tabung, gelas kimia, pipet tetes, Bunsen kaca asbes dan kaki tiga. Sedangkan bahan yang digunakan adalah aquades, dan korek kayu.
B.       Saran
Alat-alat yang digunakan seharusnya lebih banyak lagi dan apabila dalam praktikum selalu berhati-hati dalam menggunakan alat-alat yang telah tersedia.

DAFTAR PUSTAKA

Baharuddin Maswati dan Aziz Fitria. Modul Manajemen Laboratorium. Makassar : Jurusan Kimia UIN Alauddin Makassar, 2013.
Khadinimal. Teknik Laboratorium Kimia, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.
Sudarmaji Slamet, dkk. Prosedur Analisis untuk Bahan Makanan dan Pertanian, Bandung. 1995.
S. Syukri, Kimia Dasar. Bandung: ITB, 1999.
Widodo Setiyo Didik dan Lusiana Ariadi Retno. Kimia Analisis Kuantitatif.. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.